Kisah antara CINTA dan KEKAYAAN,KECANTIKAN,KESEDIHAN,KEGEMBIRAAN dan WAKTU.

Kisah2 teladan hari ini No Comments »

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda
abstrak: ada CINTA, KEKAYAAN,KECANTIKAN, KESEDIHAN, KEGEMBIRAAN dan
sebagainya. Awalnya mereka hidup berdampingan dengan baik dan saling
melengkapi. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil
itu dan air laut tiba-tiba naik semakin tinggi dan akan menenggelamkan pulau
itu.Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.

CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak
mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencuba mencari pertolongan.
Sementara itu air makin naik membasahi kaki CINTA. Tak lama CINTA melihat
KEKAYAAN sedang mengayuh perahu.

"KEKAYAAN! KEKAYAAN! Tolong saya!" teriak CINTA. Lalu apa jawab
KEKAYAAN, "Aduh! Maaf,CINTA!" kata KEKAYAAN. "Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. saya tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam.
Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini." Lalu KEKAYAAN
cepat-cepat mengayuh perahunya pergi meninggalkan CINTA tenggelam.

CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya KEGEMBIRAAN lewat
dengan perahunya. "KEGEMBIRAAN! Tolong saya!", teriak CINTA. Namun apa yang
terjadi, KEGEMBIRAAN terlalu gembira karena ia menemukan perahu
sehingga ia tuli tak mendengar teriakan CINTA. Air makin tinggi membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik. Tak lama lewatlah KECANTIKAN.

"KECANTIKAN! Bawalah saya bersamamu!", teriak CINTA. Lalu apa jawab
KECANTIKAN, "Wah, CINTA, kamu basah dan kotor.saya tak bisa membawamu
ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut KECANTIKAN.
CINTA sedih sekali mendengarnya. CINTA mulai menangis terisak-isak. Apa
kesalahanku, mengapa semua orang melupakan saya.

Saat itu lewatlah KESEDIHAN. Lalu CINTA memelas, "Oh, KESEDIHAN,
bawalah saya bersamamu", kata CINTA. Lalu apa kata KESEDIHAN, "Maaf, CINTA.
saya sedang sedih dan saya ingin sendirian saja…", kata KESEDIHAN sambil
terus mengayuh perahunya. CINTA putus asa. Ia merasakan air makin naik dan
akan menenggelamkannya. CINTA terus berharap kalau dirinya dapat
diselamatlkan. Lalu ia berdoa kepada Tuhannya, oh tuhan tolonglah saya, apa jadinya dunia tanpa saya, tanpa CINTA?

Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "CINTA! Mari cepat
naik ke perahuku!" CINTA menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua
reyot berjanggut putih panjang sedang mengayuh perahunya. Lalu Cepat-cepat
CINTA naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Kemudian di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan CINTA dan segera
pergi lagi. Pada saat itu barulah CINTA sadar, bahwa ia sama sekali tidak
mengetahui siapa orang tua yang baik hati menyelamatkannya itu. CINTA
segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa
sebenarnya orang tua itu.

"Oh, orang tua tadi? Dia adalah "WAKTU", kata orang itu. Lalu CINTA
bertanya "Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? saya tak mengenalnya.
Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku", tanya CINTA
heran. "Sebab", kata orang itu, "hanya WAKTU lah yang tahu berapa nilainya
harga

sebuah CINTA itu……"

Wake-up call…..how true!

Kisah2 teladan hari ini No Comments »
There was a blind girl who hated herself just because she’s blind.

She hated everyone, except her loving boyfriend. He’s always there for her.

She said that if she could only see the world, she would marry her boyfriend.

One day, someone donated a pair of eyes to her and then she can see everything, including her boyfriend.

Her boyfriend asked her, "now that you can see the world, will you marry  me?" The girl was shocked when she saw that her boyfriend is blind too, and refused to marry him.

Her boyfriend walked away in tears, and later wrote a letter to her saying. "Just take care of my eyes dear."

This is how human brain changes when the status changed.

Only few remember what life was before, and who’s always been there even in the most painful situations.

Life Is A Gift

Today before you think of saying an unkind word - Think of someone who can’t speak.

Before you complain about the taste of your food - Think of someone who has nothing to eat.

Before you complain about your husband or wife - Think of someone who’s crying out to God for a companion.

Today before you complain about life - Think of someone who went too early to heaven.

Before you complain about your children - Think of someone who desires children but they’re barren.

Before you argue about your dirty house, someone didn’t clean or sweep - Think of the people who are living in the streets.

Before whining about the distance you drive - Think of someone who walks the same distance with their feet.

And when you are tired and complain about your job - Think of the unemployed, the disabled and those who wished they had your job.

But before you think of pointing the finger or condemning another - Remember that not one of us are without sin and we all answer to one maker.

And when depressing thoughts seem to get you down  - Put a smile on your face and thank God you’re alive and still around.

Life is a gift, Live it, Enjoy it, Celebrate it, And fulfill it.

JANGANLAH MENANGIS SAYANG

Kisah2 teladan hari ini No Comments »

p/s orang rumah kasi.. baca bersama…hehehheheHOH!

Kesatlah Airmatamu Wahai Wanita

arien menulis ""Apabila hati terikat dengan Allah, kembalilah wanita
dengan
asal fitrah kejadiannya, menyejukkan hati dan menjadi perhiasan kepada
dunia - si gadis dengan sifat sopan dan malu, anak yang taat kepada ibu
bapa, isteri yang menyerahkan kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan
hanya
pada suami."

Bait-bait kata itu aku tatapi dalam-dalam. Penuh penghayatan. Kata-kata
yang
dinukilkan dalam sebuah majalah yang ku baca. Alangkah indahnya jika
aku
bisa menjadi perhiasan dunia seperti yang dikatakan itu. Ku bulatkan
tekad
di hatiku. Aku ingin menjadi seorang gadis yang sopan, anak yang taat
kepada
ibu bapaku dan aku jua ingin menjadi seorang isteri yang menyerahkan
kasih
sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya untuk suami, kerana Allah.

Menjadi seorang isteri….kepada insan yang disayangi…..idaman setiap
wanita. Alhamdulillah, kesyukuran aku panjatkan ke hadrat Ilahi atas
nikmat
yang dikurniakan kepadaku.

Baru petang tadi, aku sah menjadi seorang isteri setelah mengikat tali
pertunangan 6 bulan yang lalu. Suamiku, Muhammad Harris, alhamdulillah
menepati ciri-ciri seorang muslim yang baik. Aku berazam untuk menjadi
isteri yang sebaik mungkin kepadanya.

"Assalamualaikum," satu suara menyapa pendengaranku membuatkan aku
gugup
seketika.

"Waalaikumusalam," jawabku sepatah. Serentak dengan itu, ku lontarkan
satu
senyuman paling ikhlas dan paling manis untuk suamiku. Dengan perlahan
dia
melangkah menghampiriku.

"Ain buat apa dalam bilik ni ? Puas abang cari Ain dekat luar tadi.
Rupanya
kat sini buah hati abang ni bersembunyi. `’

Aku tersenyum mendengar bicaranya. Terasa panas pipiku ini. Inilah kali
pertama aku mendengar ucapan `abang’ dari bibirnya.

Dan itulah juga pertama kali dia membahasakan diriku ini sebagai `buah
hati’
nya. Aku sungguh senang mendengar ucapan itu. Perlahan-lahan ku
dongakkan
wajahku dan aku memberanikan diri menatap pandangan matanya.

Betapa murninya sinaran cinta yang terpancar dari matanya, betapa
indahnya
senyumannya, dan betapa bermaknanya renungannya itu. Aku tenggelam
dalam
renungannya, seolah-olah hanya kami berdua di dunia ini.

Seketika aku tersedar kembali ke alam nyata. "Ain baru je masuk. Nak
mandi.
Lagipun dah masuk Maghrib kan ? `’ ujarku.

`’ Ha’ah dah maghrib. Ain mandi dulu. Nanti abang mandi dan kita solat
Maghrib sama-sama ye ? `’Dia tersenyum lagi. Senyum yang menggugah hati
kewanitaanku. Alangkah beruntungnya aku memilikimu, suamiku.

Selesai solat Maghrib dan berdoa, dia berpusing mengadapku. Dengan
penuh
kasih, ku salami dan ku cium tangannya, lama.

Aku ingin dia tahu betapa dalam kasih ini hanya untuknya. Dan aku dapat
merasai tangannya yang gagah itu mengusap kepalaku dengan lembut.
Dengan
perlahan aku menatap wajahnya.

"Abang….." aku terdiam seketika. Terasa segan menyebut kalimah itu di
hadapannya. Tangan kami masih lagi saling berpautan. Seakan tidak mahu
dilepaskan. Erat terasa genggamannya.

"Ya sayang…" Ahhh….bicaranya biarpun satu kalimah, amat menyentuh
perasaanku.

"Abang… terima kasih atas kesudian abang memilih Ain sebagai isteri
biarpun banyak kelemahan Ain. Ain insan yang lemah, masih perlu banyak
tunjuk ajar dari abang. Ain harap abang sudi pandu Ain. Sama-sama kita
melangkah hidup baru, menuju keredhaan Allah." Tutur bicaraku ku susun
satu
persatu.

"Ain, sepatutnya abang yang harus berterima kasih kerana Ain sudi
terima
abang dalam hidup Ain. Abang sayangkan Ain. Abang juga makhluk yang
lemah,
banyak kekurangan. Abang harap Ain boleh terima abang seadanya. Kita
sama-sama lalui hidup baru demi redhaNya."

`’Insya Allah abang….Ain sayangkan abang. `’

`’Abang juga sayangkan Ain. Sayang sepenuh hati abang.”

Dengan telekung yang masih tersarung, aku tenggelam dalam pelukan
suamiku.

Hari-hari yang mendatang aku lalui dengan penuh kesyukuran. Suamiku,
ternyata seorang yang cukup penyayang dan penyabar. Sebagai wanita aku
tidak
dapat lari daripada rajuk dan tangis.

Setiap kali aku merajuk apabila dia pulang lewat, dia dengan penuh
mesra
memujukku, membelaiku. Membuatku rasa bersalah. Tak wajar ku sambut
kepulangannya dengan wajah yang mencuka dan dengan tangisan.

Bukankah aku ingin menjadi perhiasan yang menyejukkan hati suami?
Sedangkan
Khadijah dulu juga selalu ditinggalkan Rasulullah untuk berkhalwat di
Gua
Hira’.

Lalu, ku cium tangannya, ku pohon ampun dan maaf. Ku hadiahkan senyuman
untuknya. Katanya senyumku bila aku lepas menangis, cantik!

Ahhh….dia pandai mengambil hatiku. Aku semakin sayang padanya.
Nampaknya
hatiku masih belum sepenuhnya terikat dengan Allah. Lantaran itulah aku
masih belum mampu menyerahkan seluruh kasih sayang, kesetiaan dan
ketaatan
hanya untuk suami.

`’ Isteri yang paling baik ialah apabila kamu memandangnya, kamu merasa
senang, apabila kamu menyuruh, dia taat dan apabila kamu berpergian,
dia
menjaga maruahnya dan hartamu .`’

Aku teringat akan potongan hadis itu. Aku ingin merebut gelaran isteri
solehah. Aku ingin segala yang menyenangkan buat suamiku. Tuturku ku
lapis
dengan sebaik mungkin agar tidak tercalar hatinya dengan perkataanku.
Ku
hiaskan wajahku hanya untuk tatapannya semata-mata.

Makan minumnya ku jaga dengan sempurna. Biarpun aku jua sibuk lantaran
aku
juga berkerjaya. Pernah sekali, aku mengalirkan air mata lantaran aku
terlalu penat menguruskan rumah tangga apabila kembali dari kerja.
Segalanya
perlu aku uruskan. Aku terasa seperti dia tidak memahami kepenatanku
sedangkan kami sama-sama memerah keringat mencari rezeki.

Namun, aku teringat akan kisah Siti Fatimah, puteri Rasulullah yang
menangis
kerana terlalu penat menguruskan rumah tangga.

Aku teringat akan besarnya pahala seorang isteri yang menyiapkan segala
keperluan suaminya. Hatiku menjadi sejuk sendiri.

Ya Allah, aku lakukan segala ini ikhlas keranaMu. Aku ingin mengejar
redha
suamiku demi untuk mengejar redhaMu. Berilah aku kekuatan, Ya Allah.

" Ain baik, cantik. Abang sayang Ain.`’ Ungkapan itu tidak lekang dari
bibirnya. Membuatkan aku terasa benar-benar dihargai. Tidak sia-sia
pengorbananku selama ini. Betapa bahagianya menjadi isteri yang
solehah.

Kehidupan yang ku lalui benar-benar bermakna, apatah lagi dengan
kehadiran 2
orang putera dan seorang puteri. Kehadiran mereka melengkapkan
kebahagiaanku.

Kami gembira dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang dikurniakan
kepada
kami.

Namun, pada suatu hari, aku telah dikejutkan dengan permintaannya yang
tidak
terduga.

"Ain…..abang ada sesuatu nak cakap dengan Ain."

"Apa dia abang?" tanyaku kembali. Aku menatap wajahnya dengan penuh
kasih.
`’ Ain isteri yang baik. Abang cukup bahagia dengan Ain. Abang bertuah
punya
Ain sebagai isteri," bicaranya terhenti setakat itu. Aku tersenyum.
Namun
benakku dihinggap persoalan. Takkan hanya itu?

"Abang ada masalah ke?" Aku cuba meneka.

"Tidak Ain. Sebenarnya……," bicaranya terhenti lagi. Menambah
kehairanan
dan mencambahkan kerisauan di hatiku. Entah apa yang ingin
diucapkannya.

"Ain……abang…..abang nak minta izin Ain……untuk berkahwin
lagi,"
ujarnya perlahan namun sudah cukup untuk membuat aku tersentak.
Seketika aku
kehilangan kata.

"A…..Abang…..nak kahwin lagi?" aku seakan tidak percaya mendengar
permintaannya itu. Ku sangka dia telah cukup bahagia dengannku. Aku
sangka
aku telah memberikan seluruh kegembiraan padanya. Aku sangka hatinya
telah
dipenuhi dengan limpahan kasih sayangku seorang.

Rupanya aku silap. Kasihku masih kurang. Hatinya masih punya ruang
untuk
insan selain aku.

Tanpa bicara, dia mengangguk. `’ Dengan siapa abang ? `’ Aku bertanya.
Aku
tidak tahu dari mana datang kekuatan untuk tidak mengalirkan air mata.
Tapi….hatiku… hanya Allah yang tahu betapa azab dan pedih hati ini.

`’ Faizah. Ain kenal dia, kan ? `’

Ya, aku kenal dengan insan yang bernama Faizah itu. Juniorku di
universiti.
Rakan satu jemaah. Suamiku aktif dalam jemaah dan aku tahu Faizah juga
aktif
berjemaah.

Orangnya aku kenali baik budi pekerti, sopan tingkah laku, indah tutur
kata
dan ayu paras rupa. Tidakku sangka, dalam diam suamiku menaruh hati
pada
Faizah.

" A….Abang……Apa salah Ain abang?" nada suaraku mula bergetar. Aku
cuba
menahan air mataku daripada gugur. Aku menatap wajah Abang Harris
sedalam-dalamnya. Aku cuba mencari masih adakah cintanya untukku.

"Ain tak salah apa-apa sayang. Ain baik. Cukup baik. Abang sayang pada
Ain."

"Tapi….Faizah. Abang juga sayang pada Faizah….bermakna…..sayang
abang
tidak sepenuh hati untuk Ain lagi."

"Ain…..sayang abang pada Ain tidak berubah. Ain cinta pertama abang.
Abang
rasa ini jalan terbaik. Tugasan dalam jemaah memerlukan abang banyak
berurusan dengan Faizah….Abang tak mahu wujud fitnah antara kami.

Lagipun….abang lelaki Ain. Abang berhak untuk berkahwin lebih dari
satu.
`’

Bicara itu kurasakan amat tajam, mencalar hatiku. Merobek jiwa ragaku.
Aku
mengasihinya sepenuh hatiku. Ketaatanku padanya tidak pernah luntur.
Kasih
sayangku padanya tidak pernah pudar. Aku telah cuba memberikan layanan
yang
terbaik untuknya. Tapi inikah hadiahnya untukku?

Sesungguhnya aku tidak menolak hukum Tuhan. Aku tahu dia berhak. Namun,
alangkah pedihnya hatiku ini mendengar ucapan itu terbit dari bibirnya.
Bibir insan yang amat ku kasihi.

Malam itu, tidurku berendam air mata. Dalam kesayuan, aku memandang
wajah
Abang Harris penuh kasih. Nyenyak sekali tidurnya.

Sesekali terdetik dalam hatiku, bagaimana dia mampu melelapkan mata
semudah
itu setelah hatiku ini digurisnya dengan sembilu.

Tidak fahamkah dia derita hati ini? Tak cukupkah selama ini
pengorbananku
untuknya? Alangkah peritnya menahan kepedihan ini. Alangkah pedihnya!

Selama seminggu, aku menjadi pendiam apabila bersama dengannya. Bukan
aku
sengaja tetapi aku tidak mampu membohongi hatiku sendiri. Tugasku
sebagai
seorang isteri aku laksanakan sebaik mungkin, tapi aku merasakan
segalanya
tawar. Aku melaksanakannya tidak sepenuh hati.

Oh Tuhan…..ampuni daku. Aku sayang suamiku, tapi aku terluka dengan
permintaannya itu.

Apabila bertembung dua kehendak, kehendak mana yang harus /> dituruti.
Kehendak diri sendiri atau kehendak Dia ?

Pastinya kehendak Dia. Apa lagi yang aku ragukan? Pasti ada hikmah
Allah
yang tersembunyi di sebalik ujian yang Dia turunkan buatku ini. Aku
berasa
amat serba-salah berada dalam keadaan demikian.

Aku rindukan suasana yang dulu. Riang bergurau senda dengan suamiku.
Kini,
aku hanya terhibur dengan keletah anak-anak.

Senyumku untuk Abang Harris telah tawar, tidak berperisa. Yang nyata,
aku
tidak mampu bertentang mata dengannya lagi. Aku benar-benar terluka.

Namun, Abang Harris masih seperti dulu. Tidak jemu dia memelukku
setelah
pulang dari kerja walau sambutan hambar. Tidak jemu dia mencuri pandang
merenung wajahku walau aku selalu melarikan pandangan dari anak
matanya.

Tidak jemu ucapan kasihnya untukku. Aku keliru. Benar-benar keliru.
Adakah
Abang Harris benar-benar tidak berubah sayangnya padaku atau dia hanya
sekadar ingin mengambil hatiku untuk membolehkan dia berkahwin lagi?

`Oh Tuhan…berilah aku petunjukMu.’ Dalam kegelapan malam, aku bangkit
sujud menyembahNya, mohon petunjuk dariNya. Aku mengkoreksi kembali
matlamat
hidupku.

Untuk apa segala pengorbananku selama ini untuk suamiku ? Untuk
mengejar
cintanya atau untuk mengejar redha Allah ?

Ya Allah, seandainya ujian ini Engkau timpakan ke atas ku untuk menguji
keimananku, aku rela Ya Allah. Aku rela.

Biarlah… Bukan cinta manusia yang ku kejar. Aku hanya mengejar cinta
Allah. Cinta manusia hanya pemangkin. Bukankah aku telah berazam, aku
inginkan segala yang menyenangkan buat suamiku?

Dengan hati yang tercalar seguris luka, aku mengizinkan Abang Harris
berkahwin lagi. Dan, demi untuk mendidik hati ini, aku sendiri yang
menyampaikan hasrat Abang Harris itu kepada Faizah.

Suamiku pada mulanya agak terkejut apabila aku menawarkan diri untuk
merisik
Faizah.

"Ain?……Ain serius?"

"Ya abang. Ain sendiri akan cakap pada Faizah. Ain lakukan ini semua
atas
kerelaan hati Ain sendiri. Abang jangan risau…Ain jujur terhadap
abang.
Ain tak akan khianati abang. Ain hanya mahu lihat abang bahagia,"
ujarku
dengan senyuman tawar. Aku masih perlu masa untuk mengubat luka ini.
Dan
inilah satu caranya. Ibarat menyapu ubat luka. Pedih, tetapi cepat
sembuhnya.

Aku mengumpul kekuatan untuk menjemput Faizah datang ke rumahku. Waktu
itu,
suamiku tiada di rumah dan dia telah memberi keizinan untuk menerima
kedatangan Faizah. Faizah dengan segala senang hati menerima
undanganku.

Sememangnya aku bukanlah asing baginya. Malah dia juga mesra dengan
anak-anakku.

`’ Izah……akak jemput Izah ke mari sebab ada hal yang akak nak
cakapkan, `’ setelah aku merasakan cukup kuat, aku memulakan bicara.

`’ Apa dia, Kak Ain. Cakaplah, `’ lembut nada suaranya.

"Abang Harris ada pernah cakap apa-apa pada Faizah?"

"Maksud Kak Ain, Ustaz Harris?" Ada nada kehairanan pada suaranya.
Sememangnya kami memanggil rakan satu jemaah dengan panggilan Ustaz dan
Uztazah. Aku hanya mengangguk.

" Pernah dia cakap dia sukakan Izah?"

"Sukakan Izah? Isyyy….tak mungkinlah Kak Ain. Izah kenal Ustaz
Harris. Dia
kan amat sayangkan akak. Takkanlah dia nak sukakan saya pula. Kenapa
Kak Ain
tanya macam tu? Kak Ain ada dengar cerita dari orang ke ni? `’

`’ Tidak Izah. Tiada siapa yang membawa cerita……." Aku terdiam
seketika.
"Izah, kalau Kak Ain cakap dia sukakan Izah dan nak ambil Izah jadi
isterinya, Izah suka?" Dengan amat berat hati, aku tuturkan
kalimah itu.

" Kak Ain!" jelas riak kejutan terpapar di wajahnya. `’ Apa yang Kak
Ain
cakap ni ? Jangan bergurau hal sebegini Kak Ain, `’ kata Faizah seakan
tidak
percaya. Mungkin kerana aku sendiri yang menutur ayat itu. Isteri
kepada
Muhammad Harris sendiri merisik calon isteri kedua suaminya.

"Tidak Izah. Akak tak bergurau……Izah sudi jadi saudara Kak Ain?"
ujarku
lagi. Air mataku seolah ingin mengalir tapi tetap aku tahan. Faizah
memandang tepat ke wajahku.

"Kak Ain. Soal ini bukan kecil Kak Ain. Kak Ain pastikah
yang……Ustaz
Harris…..mahu… melamar saya?"

Dari nada suaranya, aku tahu Faizah jelas tidak tahu apa-apa. Faizah
gadis
yang baik. Aku yakin dia tidak pernah menduga suamiku akan membuat
permintaan seperti ini. Lantas, aku menceritakan kepada Faizah akan
hasrat
suamiku.

Demi untuk memudahkan urusan jemaah, untuk mengelakkan fitnah. Faizah
termenung mendengar penjelasanku.

"Kak Ain…..saya tidak tahu bagaimana Kak Ain boleh hadapi semuanya
ini
dengan tabah. Saya kagum dengan semangat Kak Ain. Saya minta maaf kak.
Saya
tak tahu ini akan berlaku. Saya tak pernah menyangka saya menjadi punca
hati
Kak Ain terluka," ujarnya sebak. Matanya ku lihat berkaca-kaca.

"Izah…Kak Ain tahu kamu tak salah. Kak Ain juga tak salahkan Abang
Harris. Mungkin dia fikir ini jalan terbaik. Dan akak tahu, dia berhak
dan
mampu untuk melaksanakannya. Mungkin ini ujian untuk menguji keimanan
Kak
Ain."

"Kak…maafkan Izah." Dengan deraian air mata, Faizah meraihku ke dalam
pelukannya. Aku juga tidak mampu menahan sebak lagi. Air mataku
terhambur
jua. Hati wanita. Biarpun bukan dia yang menerima kepedihan ini, tetapi
tersentuh jua hatinya dengan kelukaan yang ku alami. Memang hanya
wanita
yang memahami hati wanita yang lain.

"Jadi…Izah setuju?" Soalku apabila tangisan kami telah reda.

`’ Kak Ain….ini semua kejutan buat Izah. Izah tak tahu nak cakap.
Izah tak
mahu lukakan hati Kak Ain."

"Soal Kak Ain….Izah jangan risau, hati Kak Ain…Insya Allah tahulah
akak
mendidiknya. Yang penting akak mahu Abang Harris bahagia. Dan akak
sebenarnya gembira kerana Faizah pilihannya. Bukannya gadis lain yang
akak
tak tahu hati budinya. Insya Allah Izah. Sepanjang Kak Ain mengenali
Abang
Harris dan sepanjang akak hidup sebumbung dengannya, dia seorang yang
baik,
seorang suami yang soleh, penyayang dan penyabar. Selama ini akak
gembira
dengan dia. Dia seorang calon yang baik buat Izah. `’

"Akak…..Izah terharu dengan kebaikan hati akak. Tapi bagi Izah masa
dan
Izah perlu tanya ibu bapa Izah dulu."

"Seeloknya begitulah. Kalau Izah setuju, Kak Ain akan cuba cakap pada
ibu
bapa Izah."

Pertemuan kami petang itu berakhir. Aku berasa puas kerana telah
menyampaikan hasrat suamiku. `Ya Allah…..inilah pengorbananku untuk
membahagiakan suamiku. Aku lakukan ini hanya semata-mata demi redhaMu.’

Pada mulanya, keluarga Faizah agak keberatan untuk membenarkan Faizah
menjadi isteri kedua Abang Harris. Mereka khuatir Faizah akan terabai
dan
bimbang jika dikata anak gadis mereka merampas suami orang.

Namun, aku yakinkan mereka akan kemampuan suamiku. Alhamdulillah,
keluarga
Faizah juga adalah keluarga yang menitikberatkan ajaran agama.
Akhirnya,
majlis pertunangan antara suamiku dan Faizah diadakan jua.

"Ain…..abang minta maaf sayang," ujar suamiku pada suatu hari,
beberapa minggu sebelum tarikh pernikahannya dengan Faizah.

"Kenapa?"

"Abang rasa serba salah. Abang tahu abang telah lukakan hati Ain.
Tapi….Ain sedikit pun tidak marahkan abang. Ain terima segalanya demi
untuk abang. Abang terharu. Abang….malu dengan Ain."

"Abang….syurga seorang isteri itu terletak di bawah tapak kaki
suaminya.
Redha abang pada Ain Insya Allah, menjanjikan redha Allah pada Ain. Itu
yang
Ain cari abang. Ain sayangkan abang. Ain mahu abang gembira. Ain anggap
ini
semua ujian Allah abang. `’

`’ Ain….Insya Allah abang tak akan sia-siakan pengorbanan Ain ini.
Abang bangga sayang. Abang bangga punya isteri seperti Ain. Ain adalah
cinta
abang selamanya. Abang cintakan Ain."

"Tapi…abang harus ingat. Tanggungjawab abang akan jadi semakin berat.
Abang ada dua amanah yang perlu dijaga. Ain harap abang dapat
laksanakan
tanggungjawab abang sebaik mungkin."

"Insya Allah abang akan cuba berlaku seadilnya." Dengan lembut dia
mengucup
dahiku. Masih hangat seperti dulu. Aku tahu kasihnya padaku tidak
pernah
luntur. Aku terasa air jernih yang hangat mula membasahi pipiku.
Cukuplah
aku tahu, dia masih sayangkan aku seperti dulu walaupun masanya
bersamaku
nanti akan terbatas.

Pada hari pertama pernikahan mereka, aku menjadi lemah. Tidak bermaya.
Aku
tiada daya untuk bergembira. Hari itu sememangnya amat perit bagiku
walau
aku telah bersedia untuk menghadapinya.

Malam pertama mereka disahkan sebagai suami isteri adalah malam pertama
aku
ditinggalkan sendirian menganyam sepi. Aku sungguh sedih. Maha hebat
gelora
perasaan yang ku alami. Aku tidak mampu lena walau sepicing pun. Hatiku
melayang terkenangkan Abang Harris dan Faizah. Pasti mereka berdua
bahagia
menjadi pengantin baru.

Bahagia melayari kehidupan bersama, sedangkan aku ? Berendam air mata
mengubat rasa kesepian ini. Alhamdulillah. Aku punya anak-anak.
Merekalah
teman
bermainku.

Seminggu selepas itu, barulah Abang Harris pulang ke rumah. Aku
memelukknya
seakan tidak mahu ku lepaskan. Seminggu berjauhan, terasa seperti
setahun.
Alangkah rindunya hati ini. Sekali lagi air mata ku rembeskan tanpa
dapat
ditahan.

`’ Kenapa sayang abang menangis ni? Tak suka abang balik ke?" ujarnya
lembut.

"Ain rindu abang. Rindu sangat. `’ Tangisku makin menjadi-jadi. Aku
mengeratkan pelukanku. Dan dia juga membalas dengan penuh kehangatan.

`’ Abang pun rindu Ain. Abang rindu senyuman Ain. Boleh Ain senyum pada
abang ? `’ Lembut tangannya memegang daguku dan mengangkat wajahku.

`’Abang ada teman baru. Mungkinkah abang masih rindu pada Ain ? `’Aku
menduga keikhlasan bicaranya.

`’ Teman baru tidak mungkin sama dengan yang lama. Kan abang dah kata,
sayang abang pada Ain masih seperti dulu. Tidak pernah berubah, malah
semakin sayang. Seminggu abang berjauhan dari Ain, tentulah abang
rindu.
Rindu pada senyuman Ain, suara Ain, masakan Ain, sentuhan Ain. Semuanya
itu
tiada di tempat lain, hanya pada Ain saja. Senyumlah sayang, untuk
abang. `’

Aku mengukir senyum penuh ikhlas. Aku yakin dengan kata-katanya. Aku
tahu
sayangnya masih utuh buatku.

Kini, genap sebulan Faizah menjadi maduku. Aku melayannya seperti adik
sendiri. Hubungan kami yang dulunya baik bertambah mesra. Apa tidaknya,
kami
berkongsi sesuatu yang amat dekat di hati.

Dan, Faizah, menyedari dirinya adalah orang baru dalam keluarga,
sentiasa
berlapang dada menerima teguranku. Katanya, aku lebih mengenali Abang
Harris
dan dia tidak perlu bersusah payah untuk cuba mengorek sendiri apa yang
disukai dan apa yang tidak disukai oleh Abang Harris. Aku, sebagai
kakak,
juga sentiasa berpesan kepada Faizah supaya sentiasa menghormati dan
menjaga
hati Abang Harris. Aku bersyukur, Faizah tidak pernah mengongkong
suamiku.
Giliran kami dihormatinya.

Walaupun kini masa untuk aku bersama dengan suamiku terbatas, tetapi
aku
dapat merasakan kebahagiaan yang semakin bertambah apabila kami
bersama.
Benarlah, perpisahan sementara menjadikan kami semakin rindu. Waktu
bersama,
kami manfaatkan sebaiknya. Alhamdulillah, suamiku tidak pernah
mengabaikan
aku dan Faizah. Aku tidak merasa kurang daripada kasih sayangnya malah
aku
merasakan sayangnya padaku bertambah. Kepulangannya kini sentiasa
bersama
sekurang-kurangnya sekuntum mawar merah. Dia menjadi semakin penyayang,
semakin romantik. Aku rasa aku harus berterima kasih pada Faizah kerana
kata
suamiku, Faizahlah yang selalu mengingatkannya supaya jangan
mensia-akan
kasih sayangku padanya.

Memang aku tidak dapat menafikan, adakalanya aku digigit rindu apabila
dia
pulang untuk bersama-sama dengan Faizah. Rindu itu, aku ubati dengan
zikrullah. Aku gunakan kesempatan ketiadaannya di rumah dengan
menghabiskan
masa bersama Kekasih Yang Agung. Aku habiskan masaku dengan mengalunkan
ayat-ayatNya sebanyak mungkin. Sedikit demi sedikit kesedihan yang ku
alami
mula pudar. Ia diganti dengan rasa ketenangan. Aku tenang beribadat
kepadaNya. Terasa diriku ini lebih hampir dengan Maha Pencipta.

Soal anak-anak, aku tidak mempunyai masalah kerana sememangnya aku
mempunyai
pembantu rumah setelah aku melahirkan anak kedua. Cuma, sewaktu
mula-mula
dulu, mereka kerap juga bertanya kemana abah mereka pergi, tak pulang
ke
rumah. Aku terangkan secara baik dengan mereka. Mereka punyai ibu baru.
Makcik Faizah. Abah perlu temankan Makcik Faizah seperti abah temankan
mama.
Anak-anakku suka bila mengetahui Faizah juga menjadi `ibu’ mereka. Kata
mereka, Makcik Izah baik. Mereka suka ada dua ibu. Lebih dari orang
lain.
Ahhh…anak-anak kecil. Apa yang kita terapkan itulah yang mereka
terima.
Aku tidak pernah menunjukkan riak kesedihan bila mereka bertanya
tentang
Faizah. Bagiku Faizah seperti adikku sendiri.

Kadang-kadang, bila memikirkan suamiku menyayangi seorang perempuan
lain
selain aku, memang aku rasa cemburu, rasa terluka. Aku cemburu
mengingatkan
belaian kasihnya itu dilimpahkan kepada orang lain. Aku terluka kerana
di
hatinya ada orang lain yang menjadi penghuni. Aisyah, isteri Rasulullah
jua
cemburukan Khadijah, insan yang telah tiada. Inikan pula aku, manusia
biasa.
Tapi….. ku kikis segala perasaan itu. Cemburu itukan fitrah wanita,
tanda
sayangkan suami.
Tetapi cemburu itu tidak harus dilayan. Kelak hati sendiri yang merana.
Bagiku, kasih dan redha suami padaku itu yang penting, bukan kasihnya
pada
orang lain. Selagi aku tahu, kasihnya masih utuh buatku, aku sudah
cukup
bahagia. Dan aku yakin, ketaatan, kesetiaan dan kasih sayang yang tidak
berbelah bahagi kepadanya itulah kunci kasihnya kepadaku. Aku ingin
nafasku
terhenti dalam keadaan redhanya padaku, supaya nanti Allah jua meredhai
aku.
Kerana sabda Rasulullah s.a.w

"Mana-mana wanita (isteri) yang meninggal dunia dalam keadaan suaminya
meredhainya, maka ia akan masuk ke dalam syurga." (Riwayat-Tirmizi,
al-Hakim
dan Ibnu Majah).

Sungguh bukan mudah aku melalui semuanya itu. Saban hari aku berperang
dengan perasaan. Perasaan sayang, luka, marah, geram, cemburu semuanya
bercampur aduk. Jiwaku sentiasa berperang antara kewarasan akal dan
emosi.
Pedih hatiku hanya Tuhan yang tahu. KepadaNyalah aku pohon kekuatan
untuk
menempuhi segala kepedihan itu. KepadaNyalah aku pinta kerahmatan dan
kasih
sayang, semoga keresahan hati ini kan berkurangan.

Namun, jika aku punya pilihan, pastinya aku tidak mahu bermadu. Kerana
ia
sesungguhnya memeritkan. Perlukan ketabahan dan kesabaran. Walau
bagaimanapun, aku amat bersyukur kerana suamiku tidak pernah
mengabaikan
tanggungjawabnya. Dan aku juga bersyukur kerana menjadi intan terpilih
untuk
menerima ujian ini.

JANGANLAH MENANGIS SAYANG

Kisah2 teladan hari ini No Comments »

p/s orang rumah kasi.. baca bersama…hehehheheHOH!

Kesatlah Airmatamu Wahai Wanita

arien menulis ""Apabila hati terikat dengan Allah, kembalilah wanita
dengan
asal fitrah kejadiannya, menyejukkan hati dan menjadi perhiasan kepada
dunia - si gadis dengan sifat sopan dan malu, anak yang taat kepada ibu
bapa, isteri yang menyerahkan kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan
hanya
pada suami."

Bait-bait kata itu aku tatapi dalam-dalam. Penuh penghayatan. Kata-kata
yang
dinukilkan dalam sebuah majalah yang ku baca. Alangkah indahnya jika
aku
bisa menjadi perhiasan dunia seperti yang dikatakan itu. Ku bulatkan
tekad
di hatiku. Aku ingin menjadi seorang gadis yang sopan, anak yang taat
kepada
ibu bapaku dan aku jua ingin menjadi seorang isteri yang menyerahkan
kasih
sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya untuk suami, kerana Allah.

Menjadi seorang isteri….kepada insan yang disayangi…..idaman setiap
wanita. Alhamdulillah, kesyukuran aku panjatkan ke hadrat Ilahi atas
nikmat
yang dikurniakan kepadaku.

Baru petang tadi, aku sah menjadi seorang isteri setelah mengikat tali
pertunangan 6 bulan yang lalu. Suamiku, Muhammad Harris, alhamdulillah
menepati ciri-ciri seorang muslim yang baik. Aku berazam untuk menjadi
isteri yang sebaik mungkin kepadanya.

"Assalamualaikum," satu suara menyapa pendengaranku membuatkan aku
gugup
seketika.

"Waalaikumusalam," jawabku sepatah. Serentak dengan itu, ku lontarkan
satu
senyuman paling ikhlas dan paling manis untuk suamiku. Dengan perlahan
dia
melangkah menghampiriku.

"Ain buat apa dalam bilik ni ? Puas abang cari Ain dekat luar tadi.
Rupanya
kat sini buah hati abang ni bersembunyi. `’

Aku tersenyum mendengar bicaranya. Terasa panas pipiku ini. Inilah kali
pertama aku mendengar ucapan `abang’ dari bibirnya.

Dan itulah juga pertama kali dia membahasakan diriku ini sebagai `buah
hati’
nya. Aku sungguh senang mendengar ucapan itu. Perlahan-lahan ku
dongakkan
wajahku dan aku memberanikan diri menatap pandangan matanya.

Betapa murninya sinaran cinta yang terpancar dari matanya, betapa
indahnya
senyumannya, dan betapa bermaknanya renungannya itu. Aku tenggelam
dalam
renungannya, seolah-olah hanya kami berdua di dunia ini.

Seketika aku tersedar kembali ke alam nyata. "Ain baru je masuk. Nak
mandi.
Lagipun dah masuk Maghrib kan ? `’ ujarku.

`’ Ha’ah dah maghrib. Ain mandi dulu. Nanti abang mandi dan kita solat
Maghrib sama-sama ye ? `’Dia tersenyum lagi. Senyum yang menggugah hati
kewanitaanku. Alangkah beruntungnya aku memilikimu, suamiku.

Selesai solat Maghrib dan berdoa, dia berpusing mengadapku. Dengan
penuh
kasih, ku salami dan ku cium tangannya, lama.

Aku ingin dia tahu betapa dalam kasih ini hanya untuknya. Dan aku dapat
merasai tangannya yang gagah itu mengusap kepalaku dengan lembut.
Dengan
perlahan aku menatap wajahnya.

"Abang….." aku terdiam seketika. Terasa segan menyebut kalimah itu di
hadapannya. Tangan kami masih lagi saling berpautan. Seakan tidak mahu
dilepaskan. Erat terasa genggamannya.

"Ya sayang…" Ahhh….bicaranya biarpun satu kalimah, amat menyentuh
perasaanku.

"Abang… terima kasih atas kesudian abang memilih Ain sebagai isteri
biarpun banyak kelemahan Ain. Ain insan yang lemah, masih perlu banyak
tunjuk ajar dari abang. Ain harap abang sudi pandu Ain. Sama-sama kita
melangkah hidup baru, menuju keredhaan Allah." Tutur bicaraku ku susun
satu
persatu.

"Ain, sepatutnya abang yang harus berterima kasih kerana Ain sudi
terima
abang dalam hidup Ain. Abang sayangkan Ain. Abang juga makhluk yang
lemah,
banyak kekurangan. Abang harap Ain boleh terima abang seadanya. Kita
sama-sama lalui hidup baru demi redhaNya."

`’Insya Allah abang….Ain sayangkan abang. `’

`’Abang juga sayangkan Ain. Sayang sepenuh hati abang.”

Dengan telekung yang masih tersarung, aku tenggelam dalam pelukan
suamiku.

Hari-hari yang mendatang aku lalui dengan penuh kesyukuran. Suamiku,
ternyata seorang yang cukup penyayang dan penyabar. Sebagai wanita aku
tidak
dapat lari daripada rajuk dan tangis.

Setiap kali aku merajuk apabila dia pulang lewat, dia dengan penuh
mesra
memujukku, membelaiku. Membuatku rasa bersalah. Tak wajar ku sambut
kepulangannya dengan wajah yang mencuka dan dengan tangisan.

Bukankah aku ingin menjadi perhiasan yang menyejukkan hati suami?
Sedangkan
Khadijah dulu juga selalu ditinggalkan Rasulullah untuk berkhalwat di
Gua
Hira’.

Lalu, ku cium tangannya, ku pohon ampun dan maaf. Ku hadiahkan senyuman
untuknya. Katanya senyumku bila aku lepas menangis, cantik!

Ahhh….dia pandai mengambil hatiku. Aku semakin sayang padanya.
Nampaknya
hatiku masih belum sepenuhnya terikat dengan Allah. Lantaran itulah aku
masih belum mampu menyerahkan seluruh kasih sayang, kesetiaan dan
ketaatan
hanya untuk suami.

`’ Isteri yang paling baik ialah apabila kamu memandangnya, kamu merasa
senang, apabila kamu menyuruh, dia taat dan apabila kamu berpergian,
dia
menjaga maruahnya dan hartamu .`’

Aku teringat akan potongan hadis itu. Aku ingin merebut gelaran isteri
solehah. Aku ingin segala yang menyenangkan buat suamiku. Tuturku ku
lapis
dengan sebaik mungkin agar tidak tercalar hatinya dengan perkataanku.
Ku
hiaskan wajahku hanya untuk tatapannya semata-mata.

Makan minumnya ku jaga dengan sempurna. Biarpun aku jua sibuk lantaran
aku
juga berkerjaya. Pernah sekali, aku mengalirkan air mata lantaran aku
terlalu penat menguruskan rumah tangga apabila kembali dari kerja.
Segalanya
perlu aku uruskan. Aku terasa seperti dia tidak memahami kepenatanku
sedangkan kami sama-sama memerah keringat mencari rezeki.

Namun, aku teringat akan kisah Siti Fatimah, puteri Rasulullah yang
menangis
kerana terlalu penat menguruskan rumah tangga.

Aku teringat akan besarnya pahala seorang isteri yang menyiapkan segala
keperluan suaminya. Hatiku menjadi sejuk sendiri.

Ya Allah, aku lakukan segala ini ikhlas keranaMu. Aku ingin mengejar
redha
suamiku demi untuk mengejar redhaMu. Berilah aku kekuatan, Ya Allah.

" Ain baik, cantik. Abang sayang Ain.`’ Ungkapan itu tidak lekang dari
bibirnya. Membuatkan aku terasa benar-benar dihargai. Tidak sia-sia
pengorbananku selama ini. Betapa bahagianya menjadi isteri yang
solehah.

Kehidupan yang ku lalui benar-benar bermakna, apatah lagi dengan
kehadiran 2
orang putera dan seorang puteri. Kehadiran mereka melengkapkan
kebahagiaanku.

Kami gembira dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang dikurniakan
kepada
kami.

Namun, pada suatu hari, aku telah dikejutkan dengan permintaannya yang
tidak
terduga.

"Ain…..abang ada sesuatu nak cakap dengan Ain."

"Apa dia abang?" tanyaku kembali. Aku menatap wajahnya dengan penuh
kasih.
`’ Ain isteri yang baik. Abang cukup bahagia dengan Ain. Abang bertuah
punya
Ain sebagai isteri," bicaranya terhenti setakat itu. Aku tersenyum.
Namun
benakku dihinggap persoalan. Takkan hanya itu?

"Abang ada masalah ke?" Aku cuba meneka.

"Tidak Ain. Sebenarnya……," bicaranya terhenti lagi. Menambah
kehairanan
dan mencambahkan kerisauan di hatiku. Entah apa yang ingin
diucapkannya.

"Ain……abang…..abang nak minta izin Ain……untuk berkahwin
lagi,"
ujarnya perlahan namun sudah cukup untuk membuat aku tersentak.
Seketika aku
kehilangan kata.

"A…..Abang…..nak kahwin lagi?" aku seakan tidak percaya mendengar
permintaannya itu. Ku sangka dia telah cukup bahagia dengannku. Aku
sangka
aku telah memberikan seluruh kegembiraan padanya. Aku sangka hatinya
telah
dipenuhi dengan limpahan kasih sayangku seorang.

Rupanya aku silap. Kasihku masih kurang. Hatinya masih punya ruang
untuk
insan selain aku.

Tanpa bicara, dia mengangguk. `’ Dengan siapa abang ? `’ Aku bertanya.
Aku
tidak tahu dari mana datang kekuatan untuk tidak mengalirkan air mata.
Tapi….hatiku… hanya Allah yang tahu betapa azab dan pedih hati ini.

`’ Faizah. Ain kenal dia, kan ? `’

Ya, aku kenal dengan insan yang bernama Faizah itu. Juniorku di
universiti.
Rakan satu jemaah. Suamiku aktif dalam jemaah dan aku tahu Faizah juga
aktif
berjemaah.

Orangnya aku kenali baik budi pekerti, sopan tingkah laku, indah tutur
kata
dan ayu paras rupa. Tidakku sangka, dalam diam suamiku menaruh hati
pada
Faizah.

" A….Abang……Apa salah Ain abang?" nada suaraku mula bergetar. Aku
cuba
menahan air mataku daripada gugur. Aku menatap wajah Abang Harris
sedalam-dalamnya. Aku cuba mencari masih adakah cintanya untukku.

"Ain tak salah apa-apa sayang. Ain baik. Cukup baik. Abang sayang pada
Ain."

"Tapi….Faizah. Abang juga sayang pada Faizah….bermakna…..sayang
abang
tidak sepenuh hati untuk Ain lagi."

"Ain…..sayang abang pada Ain tidak berubah. Ain cinta pertama abang.
Abang
rasa ini jalan terbaik. Tugasan dalam jemaah memerlukan abang banyak
berurusan dengan Faizah….Abang tak mahu wujud fitnah antara kami.

Lagipun….abang lelaki Ain. Abang berhak untuk berkahwin lebih dari
satu.
`’

Bicara itu kurasakan amat tajam, mencalar hatiku. Merobek jiwa ragaku.
Aku
mengasihinya sepenuh hatiku. Ketaatanku padanya tidak pernah luntur.
Kasih
sayangku padanya tidak pernah pudar. Aku telah cuba memberikan layanan
yang
terbaik untuknya. Tapi inikah hadiahnya untukku?

Sesungguhnya aku tidak menolak hukum Tuhan. Aku tahu dia berhak. Namun,
alangkah pedihnya hatiku ini mendengar ucapan itu terbit dari bibirnya.
Bibir insan yang amat ku kasihi.

Malam itu, tidurku berendam air mata. Dalam kesayuan, aku memandang
wajah
Abang Harris penuh kasih. Nyenyak sekali tidurnya.

Sesekali terdetik dalam hatiku, bagaimana dia mampu melelapkan mata
semudah
itu setelah hatiku ini digurisnya dengan sembilu.

Tidak fahamkah dia derita hati ini? Tak cukupkah selama ini
pengorbananku
untuknya? Alangkah peritnya menahan kepedihan ini. Alangkah pedihnya!

Selama seminggu, aku menjadi pendiam apabila bersama dengannya. Bukan
aku
sengaja tetapi aku tidak mampu membohongi hatiku sendiri. Tugasku
sebagai
seorang isteri aku laksanakan sebaik mungkin, tapi aku merasakan
segalanya
tawar. Aku melaksanakannya tidak sepenuh hati.

Oh Tuhan…..ampuni daku. Aku sayang suamiku, tapi aku terluka dengan
permintaannya itu.

Apabila bertembung dua kehendak, kehendak mana yang harus /> dituruti.
Kehendak diri sendiri atau kehendak Dia ?

Pastinya kehendak Dia. Apa lagi yang aku ragukan? Pasti ada hikmah
Allah
yang tersembunyi di sebalik ujian yang Dia turunkan buatku ini. Aku
berasa
amat serba-salah berada dalam keadaan demikian.

Aku rindukan suasana yang dulu. Riang bergurau senda dengan suamiku.
Kini,
aku hanya terhibur dengan keletah anak-anak.

Senyumku untuk Abang Harris telah tawar, tidak berperisa. Yang nyata,
aku
tidak mampu bertentang mata dengannya lagi. Aku benar-benar terluka.

Namun, Abang Harris masih seperti dulu. Tidak jemu dia memelukku
setelah
pulang dari kerja walau sambutan hambar. Tidak jemu dia mencuri pandang
merenung wajahku walau aku selalu melarikan pandangan dari anak
matanya.

Tidak jemu ucapan kasihnya untukku. Aku keliru. Benar-benar keliru.
Adakah
Abang Harris benar-benar tidak berubah sayangnya padaku atau dia hanya
sekadar ingin mengambil hatiku untuk membolehkan dia berkahwin lagi?

`Oh Tuhan…berilah aku petunjukMu.’ Dalam kegelapan malam, aku bangkit
sujud menyembahNya, mohon petunjuk dariNya. Aku mengkoreksi kembali
matlamat
hidupku.

Untuk apa segala pengorbananku selama ini untuk suamiku ? Untuk
mengejar
cintanya atau untuk mengejar redha Allah ?

Ya Allah, seandainya ujian ini Engkau timpakan ke atas ku untuk menguji
keimananku, aku rela Ya Allah. Aku rela.

Biarlah… Bukan cinta manusia yang ku kejar. Aku hanya mengejar cinta
Allah. Cinta manusia hanya pemangkin. Bukankah aku telah berazam, aku
inginkan segala yang menyenangkan buat suamiku?

Dengan hati yang tercalar seguris luka, aku mengizinkan Abang Harris
berkahwin lagi. Dan, demi untuk mendidik hati ini, aku sendiri yang
menyampaikan hasrat Abang Harris itu kepada Faizah.

Suamiku pada mulanya agak terkejut apabila aku menawarkan diri untuk
merisik
Faizah.

"Ain?……Ain serius?"

"Ya abang. Ain sendiri akan cakap pada Faizah. Ain lakukan ini semua
atas
kerelaan hati Ain sendiri. Abang jangan risau…Ain jujur terhadap
abang.
Ain tak akan khianati abang. Ain hanya mahu lihat abang bahagia,"
ujarku
dengan senyuman tawar. Aku masih perlu masa untuk mengubat luka ini.
Dan
inilah satu caranya. Ibarat menyapu ubat luka. Pedih, tetapi cepat
sembuhnya.

Aku mengumpul kekuatan untuk menjemput Faizah datang ke rumahku. Waktu
itu,
suamiku tiada di rumah dan dia telah memberi keizinan untuk menerima
kedatangan Faizah. Faizah dengan segala senang hati menerima
undanganku.

Sememangnya aku bukanlah asing baginya. Malah dia juga mesra dengan
anak-anakku.

`’ Izah……akak jemput Izah ke mari sebab ada hal yang akak nak
cakapkan, `’ setelah aku merasakan cukup kuat, aku memulakan bicara.

`’ Apa dia, Kak Ain. Cakaplah, `’ lembut nada suaranya.

"Abang Harris ada pernah cakap apa-apa pada Faizah?"

"Maksud Kak Ain, Ustaz Harris?" Ada nada kehairanan pada suaranya.
Sememangnya kami memanggil rakan satu jemaah dengan panggilan Ustaz dan
Uztazah. Aku hanya mengangguk.

" Pernah dia cakap dia sukakan Izah?"

"Sukakan Izah? Isyyy….tak mungkinlah Kak Ain. Izah kenal Ustaz
Harris. Dia
kan amat sayangkan akak. Takkanlah dia nak sukakan saya pula. Kenapa
Kak Ain
tanya macam tu? Kak Ain ada dengar cerita dari orang ke ni? `’

`’ Tidak Izah. Tiada siapa yang membawa cerita……." Aku terdiam
seketika.
"Izah, kalau Kak Ain cakap dia sukakan Izah dan nak ambil Izah jadi
isterinya, Izah suka?" Dengan amat berat hati, aku tuturkan
kalimah itu.

" Kak Ain!" jelas riak kejutan terpapar di wajahnya. `’ Apa yang Kak
Ain
cakap ni ? Jangan bergurau hal sebegini Kak Ain, `’ kata Faizah seakan
tidak
percaya. Mungkin kerana aku sendiri yang menutur ayat itu. Isteri
kepada
Muhammad Harris sendiri merisik calon isteri kedua suaminya.

"Tidak Izah. Akak tak bergurau……Izah sudi jadi saudara Kak Ain?"
ujarku
lagi. Air mataku seolah ingin mengalir tapi tetap aku tahan. Faizah
memandang tepat ke wajahku.

"Kak Ain. Soal ini bukan kecil Kak Ain. Kak Ain pastikah
yang……Ustaz
Harris…..mahu… melamar saya?"

Dari nada suaranya, aku tahu Faizah jelas tidak tahu apa-apa. Faizah
gadis
yang baik. Aku yakin dia tidak pernah menduga suamiku akan membuat
permintaan seperti ini. Lantas, aku menceritakan kepada Faizah akan
hasrat
suamiku.

Demi untuk memudahkan urusan jemaah, untuk mengelakkan fitnah. Faizah
termenung mendengar penjelasanku.

"Kak Ain…..saya tidak tahu bagaimana Kak Ain boleh hadapi semuanya
ini
dengan tabah. Saya kagum dengan semangat Kak Ain. Saya minta maaf kak.
Saya
tak tahu ini akan berlaku. Saya tak pernah menyangka saya menjadi punca
hati
Kak Ain terluka," ujarnya sebak. Matanya ku lihat berkaca-kaca.

"Izah…Kak Ain tahu kamu tak salah. Kak Ain juga tak salahkan Abang
Harris. Mungkin dia fikir ini jalan terbaik. Dan akak tahu, dia berhak
dan
mampu untuk melaksanakannya. Mungkin ini ujian untuk menguji keimanan
Kak
Ain."

"Kak…maafkan Izah." Dengan deraian air mata, Faizah meraihku ke dalam
pelukannya. Aku juga tidak mampu menahan sebak lagi. Air mataku
terhambur
jua. Hati wanita. Biarpun bukan dia yang menerima kepedihan ini, tetapi
tersentuh jua hatinya dengan kelukaan yang ku alami. Memang hanya
wanita
yang memahami hati wanita yang lain.

"Jadi…Izah setuju?" Soalku apabila tangisan kami telah reda.

`’ Kak Ain….ini semua kejutan buat Izah. Izah tak tahu nak cakap.
Izah tak
mahu lukakan hati Kak Ain."

"Soal Kak Ain….Izah jangan risau, hati Kak Ain…Insya Allah tahulah
akak
mendidiknya. Yang penting akak mahu Abang Harris bahagia. Dan akak
sebenarnya gembira kerana Faizah pilihannya. Bukannya gadis lain yang
akak
tak tahu hati budinya. Insya Allah Izah. Sepanjang Kak Ain mengenali
Abang
Harris dan sepanjang akak hidup sebumbung dengannya, dia seorang yang
baik,
seorang suami yang soleh, penyayang dan penyabar. Selama ini akak
gembira
dengan dia. Dia seorang calon yang baik buat Izah. `’

"Akak…..Izah terharu dengan kebaikan hati akak. Tapi bagi Izah masa
dan
Izah perlu tanya ibu bapa Izah dulu."

"Seeloknya begitulah. Kalau Izah setuju, Kak Ain akan cuba cakap pada
ibu
bapa Izah."

Pertemuan kami petang itu berakhir. Aku berasa puas kerana telah
menyampaikan hasrat suamiku. `Ya Allah…..inilah pengorbananku untuk
membahagiakan suamiku. Aku lakukan ini hanya semata-mata demi redhaMu.’

Pada mulanya, keluarga Faizah agak keberatan untuk membenarkan Faizah
menjadi isteri kedua Abang Harris. Mereka khuatir Faizah akan terabai
dan
bimbang jika dikata anak gadis mereka merampas suami orang.

Namun, aku yakinkan mereka akan kemampuan suamiku. Alhamdulillah,
keluarga
Faizah juga adalah keluarga yang menitikberatkan ajaran agama.
Akhirnya,
majlis pertunangan antara suamiku dan Faizah diadakan jua.

"Ain…..abang minta maaf sayang," ujar suamiku pada suatu hari,
beberapa minggu sebelum tarikh pernikahannya dengan Faizah.

"Kenapa?"

"Abang rasa serba salah. Abang tahu abang telah lukakan hati Ain.
Tapi….Ain sedikit pun tidak marahkan abang. Ain terima segalanya demi
untuk abang. Abang terharu. Abang….malu dengan Ain."

"Abang….syurga seorang isteri itu terletak di bawah tapak kaki
suaminya.
Redha abang pada Ain Insya Allah, menjanjikan redha Allah pada Ain. Itu
yang
Ain cari abang. Ain sayangkan abang. Ain mahu abang gembira. Ain anggap
ini
semua ujian Allah abang. `’

`’ Ain….Insya Allah abang tak akan sia-siakan pengorbanan Ain ini.
Abang bangga sayang. Abang bangga punya isteri seperti Ain. Ain adalah
cinta
abang selamanya. Abang cintakan Ain."

"Tapi…abang harus ingat. Tanggungjawab abang akan jadi semakin berat.
Abang ada dua amanah yang perlu dijaga. Ain harap abang dapat
laksanakan
tanggungjawab abang sebaik mungkin."

"Insya Allah abang akan cuba berlaku seadilnya." Dengan lembut dia
mengucup
dahiku. Masih hangat seperti dulu. Aku tahu kasihnya padaku tidak
pernah
luntur. Aku terasa air jernih yang hangat mula membasahi pipiku.
Cukuplah
aku tahu, dia masih sayangkan aku seperti dulu walaupun masanya
bersamaku
nanti akan terbatas.

Pada hari pertama pernikahan mereka, aku menjadi lemah. Tidak bermaya.
Aku
tiada daya untuk bergembira. Hari itu sememangnya amat perit bagiku
walau
aku telah bersedia untuk menghadapinya.

Malam pertama mereka disahkan sebagai suami isteri adalah malam pertama
aku
ditinggalkan sendirian menganyam sepi. Aku sungguh sedih. Maha hebat
gelora
perasaan yang ku alami. Aku tidak mampu lena walau sepicing pun. Hatiku
melayang terkenangkan Abang Harris dan Faizah. Pasti mereka berdua
bahagia
menjadi pengantin baru.

Bahagia melayari kehidupan bersama, sedangkan aku ? Berendam air mata
mengubat rasa kesepian ini. Alhamdulillah. Aku punya anak-anak.
Merekalah
teman
bermainku.

Seminggu selepas itu, barulah Abang Harris pulang ke rumah. Aku
memelukknya
seakan tidak mahu ku lepaskan. Seminggu berjauhan, terasa seperti
setahun.
Alangkah rindunya hati ini. Sekali lagi air mata ku rembeskan tanpa
dapat
ditahan.

`’ Kenapa sayang abang menangis ni? Tak suka abang balik ke?" ujarnya
lembut.

"Ain rindu abang. Rindu sangat. `’ Tangisku makin menjadi-jadi. Aku
mengeratkan pelukanku. Dan dia juga membalas dengan penuh kehangatan.

`’ Abang pun rindu Ain. Abang rindu senyuman Ain. Boleh Ain senyum pada
abang ? `’ Lembut tangannya memegang daguku dan mengangkat wajahku.

`’Abang ada teman baru. Mungkinkah abang masih rindu pada Ain ? `’Aku
menduga keikhlasan bicaranya.

`’ Teman baru tidak mungkin sama dengan yang lama. Kan abang dah kata,
sayang abang pada Ain masih seperti dulu. Tidak pernah berubah, malah
semakin sayang. Seminggu abang berjauhan dari Ain, tentulah abang
rindu.
Rindu pada senyuman Ain, suara Ain, masakan Ain, sentuhan Ain. Semuanya
itu
tiada di tempat lain, hanya pada Ain saja. Senyumlah sayang, untuk
abang. `’

Aku mengukir senyum penuh ikhlas. Aku yakin dengan kata-katanya. Aku
tahu
sayangnya masih utuh buatku.

Kini, genap sebulan Faizah menjadi maduku. Aku melayannya seperti adik
sendiri. Hubungan kami yang dulunya baik bertambah mesra. Apa tidaknya,
kami
berkongsi sesuatu yang amat dekat di hati.

Dan, Faizah, menyedari dirinya adalah orang baru dalam keluarga,
sentiasa
berlapang dada menerima teguranku. Katanya, aku lebih mengenali Abang
Harris
dan dia tidak perlu bersusah payah untuk cuba mengorek sendiri apa yang
disukai dan apa yang tidak disukai oleh Abang Harris. Aku, sebagai
kakak,
juga sentiasa berpesan kepada Faizah supaya sentiasa menghormati dan
menjaga
hati Abang Harris. Aku bersyukur, Faizah tidak pernah mengongkong
suamiku.
Giliran kami dihormatinya.

Walaupun kini masa untuk aku bersama dengan suamiku terbatas, tetapi
aku
dapat merasakan kebahagiaan yang semakin bertambah apabila kami
bersama.
Benarlah, perpisahan sementara menjadikan kami semakin rindu. Waktu
bersama,
kami manfaatkan sebaiknya. Alhamdulillah, suamiku tidak pernah
mengabaikan
aku dan Faizah. Aku tidak merasa kurang daripada kasih sayangnya malah
aku
merasakan sayangnya padaku bertambah. Kepulangannya kini sentiasa
bersama
sekurang-kurangnya sekuntum mawar merah. Dia menjadi semakin penyayang,
semakin romantik. Aku rasa aku harus berterima kasih pada Faizah kerana
kata
suamiku, Faizahlah yang selalu mengingatkannya supaya jangan
mensia-akan
kasih sayangku padanya.

Memang aku tidak dapat menafikan, adakalanya aku digigit rindu apabila
dia
pulang untuk bersama-sama dengan Faizah. Rindu itu, aku ubati dengan
zikrullah. Aku gunakan kesempatan ketiadaannya di rumah dengan
menghabiskan
masa bersama Kekasih Yang Agung. Aku habiskan masaku dengan mengalunkan
ayat-ayatNya sebanyak mungkin. Sedikit demi sedikit kesedihan yang ku
alami
mula pudar. Ia diganti dengan rasa ketenangan. Aku tenang beribadat
kepadaNya. Terasa diriku ini lebih hampir dengan Maha Pencipta.

Soal anak-anak, aku tidak mempunyai masalah kerana sememangnya aku
mempunyai
pembantu rumah setelah aku melahirkan anak kedua. Cuma, sewaktu
mula-mula
dulu, mereka kerap juga bertanya kemana abah mereka pergi, tak pulang
ke
rumah. Aku terangkan secara baik dengan mereka. Mereka punyai ibu baru.
Makcik Faizah. Abah perlu temankan Makcik Faizah seperti abah temankan
mama.
Anak-anakku suka bila mengetahui Faizah juga menjadi `ibu’ mereka. Kata
mereka, Makcik Izah baik. Mereka suka ada dua ibu. Lebih dari orang
lain.
Ahhh…anak-anak kecil. Apa yang kita terapkan itulah yang mereka
terima.
Aku tidak pernah menunjukkan riak kesedihan bila mereka bertanya
tentang
Faizah. Bagiku Faizah seperti adikku sendiri.

Kadang-kadang, bila memikirkan suamiku menyayangi seorang perempuan
lain
selain aku, memang aku rasa cemburu, rasa terluka. Aku cemburu
mengingatkan
belaian kasihnya itu dilimpahkan kepada orang lain. Aku terluka kerana
di
hatinya ada orang lain yang menjadi penghuni. Aisyah, isteri Rasulullah
jua
cemburukan Khadijah, insan yang telah tiada. Inikan pula aku, manusia
biasa.
Tapi….. ku kikis segala perasaan itu. Cemburu itukan fitrah wanita,
tanda
sayangkan suami.
Tetapi cemburu itu tidak harus dilayan. Kelak hati sendiri yang merana.
Bagiku, kasih dan redha suami padaku itu yang penting, bukan kasihnya
pada
orang lain. Selagi aku tahu, kasihnya masih utuh buatku, aku sudah
cukup
bahagia. Dan aku yakin, ketaatan, kesetiaan dan kasih sayang yang tidak
berbelah bahagi kepadanya itulah kunci kasihnya kepadaku. Aku ingin
nafasku
terhenti dalam keadaan redhanya padaku, supaya nanti Allah jua meredhai
aku.
Kerana sabda Rasulullah s.a.w

"Mana-mana wanita (isteri) yang meninggal dunia dalam keadaan suaminya
meredhainya, maka ia akan masuk ke dalam syurga." (Riwayat-Tirmizi,
al-Hakim
dan Ibnu Majah).

Sungguh bukan mudah aku melalui semuanya itu. Saban hari aku berperang
dengan perasaan. Perasaan sayang, luka, marah, geram, cemburu semuanya
bercampur aduk. Jiwaku sentiasa berperang antara kewarasan akal dan
emosi.
Pedih hatiku hanya Tuhan yang tahu. KepadaNyalah aku pohon kekuatan
untuk
menempuhi segala kepedihan itu. KepadaNyalah aku pinta kerahmatan dan
kasih
sayang, semoga keresahan hati ini kan berkurangan.

Namun, jika aku punya pilihan, pastinya aku tidak mahu bermadu. Kerana
ia
sesungguhnya memeritkan. Perlukan ketabahan dan kesabaran. Walau
bagaimanapun, aku amat bersyukur kerana suamiku tidak pernah
mengabaikan
tanggungjawabnya. Dan aku juga bersyukur kerana menjadi intan terpilih
untuk
menerima ujian ini.

Isteri Curang

Uncategorized 1 Comment »

Seorang rakan sepejabat telah beberapa kali memberitahu Amat yang isterinya berlaku curang dengan kawannya sendiri.

Melihat Amat seperti tidak percaya dengan ceritanya, suatu hari rakan tersebut berkata, "Mat, kau balik sekarang. Kau pasti akan lihat isteri kau sedang bermesraan dengan kawan kau tu".

Amat pun pulang untuk membuktikannya. Beberapa minit kemudian ia telah kembali dengan wajah lebih ceria, nampak lega.

[jom nengok sambungannye.. :P]

"Bagaimana Mat?", tanya rakannya tadi.
"Kacau je kau nie. Dia bukan kawan aku. Kenal pun tidak, baru tadi pertama kali aku lihat dia…".

wanita yang pemalu nak bersalin,,,

Kisah2 teladan hari ini 1 Comment »

Seorang wanita muda telah ter”bersalin” di dalam sebuah lif. Dier pun malu macam nak giler dan tak mahu kuar dari lif itu. Pihak pengurusan bangunan pun memanggil polis, bomba dan psychologist untuk pujuk dier keluar. Psychologist tu pun cakap ler, "Cik… keluar lah… aper nak dimalukan… perkara biase jer nih." Wanita muda yang terbersalin itu pun menjawab, "Tak mau, tak mau, saya malu." Psychologist itu menambah, "Alah cik… tahun lepas saya ader 1 kes lagi teruk… pompuan tu beranak dalam longkang!!" Mendengarkan kata-kata Psychologist tu jer, wanita muda tu terus meraung bagai nak giler lalu berkata, "Yang tu pun saya gak, uhwaaa..!!!"

Telefon percuma

Web/Tech No Comments »

Tanya /msg saya jika ade yg nak belajar cara penggunaannya…

peralatan hanyalah…talian internet, pc atau laptop yg ade mic dan speaker/headphone dll..itu sahaja

Sesuai untuk sesiapa yg..

-nak call ke talian tetap (bukan hp)secara PERCUMA
-nak call percuma ke:-

Argentina free*
Australia free*
Austria free*
Belgium free*
Canada free*
Czech Republic free*
Denmark free*
France free*
Germany free*
Hong Kong (+mobile) free*
Hungary free*
Ireland free*
Italy free*
Luxembourg free*
Malaysia free*
Monaco free*
Netherlands free*
New Zealand free*
Norway free*
Panama free*
Poland free*
Portugal free*
Puerto Rico (+mobile) free*
Russian Federation free*
Singapore free*
Slovenia free*
South Korea free*
Spain free*
Sweden free*
Switzerland free*
Taiwan free*
United Kingdom free*
United States (+mobile) free*

sebab2 xnak publish cara2 tu kat sini adalah..aku bleh track brapa ramai yg berminat dgn bab nih..dan cuba praktis guna nih..

ni bukan cara pirate atau !@#$%^&*

ni hanyalah cara utk korang manfaatkan teknologi VOIP yg semakin ganaz…

Rekaan semata-mata!!

Renungan No Comments »

Jangan percaya apa yg anda lihat selagi aku tidak mengesahkannya.

Jangan dengar apa yg orang lain kata selagi anda tak dengar dari  mulut aku sendiri.

Install Cinta

Renungan No Comments »
Customer Service (CS) : Ya, ada apa yg saya bole bantu?

Pelanggan (P) : Oh ya, setelah saya pertimbangkan, saya ingin menginstal
Cinta Kasih.Bolehkah anda membantu saya menyelesaikan prosesnya?

CS :
Ya, saya dapat membantu anda.Baikla..anda sedia melakukannya skg?

P :
Baik, saya tak paham sgt bende2 ni secara teknikal tetapi saya sedia untuk
menginstalnya sekarang. Apa yang harus saya lakukan dahulu?

CS : Langkah
pertama adalah Open (run) HATI anda. Tahukan anda di mana HATI anda?

P :
Ya, tapi ada banyak program yang sedang aktif. Apakah saya masih bole
menginstalnya sementara program-program tersebut aktif?

CS : Program apa
saja yang sedang aktif?

P : Kejap ya., saya lihat dulu, Program yang
sedang aktif adalah SAKITHATI.EXE, MINDER.EXE, DENDAM.EXE dan BENCI.COM.

CS : Tidak apa-apa. CINTA-KASIH akan menghapus SAKITHATI.EXE dari system
operasi Anda. Program tersebut akan tetap ada dalam memori anda, tetapi tidak
lama karena akan terakses Program lain. CINTA-KASIH akan mengakses MINDER.EXE
dengan modul yang disebut PERCAYADIRI.EXE. Tetapi anda harus mematikan BENCI.COM
dan DENDAM.EXE. Program tersebut akan menyebabkan CINTA-KASIH tidak terinstal
secara sempurna. Dapatkah anda mematikannya?

P : Saya tidak tahu cara
mematikannya. Dapatkah anda memandu saya?

CS : Bole jek… Gunakan Start
menu dan aktifkan

MEMAAFKAN.EXE. Aktifkan program ini sekerap yg mungkin
sampai BENCI.COM dan DENDAM.EXE terhapus.

P : OK, sudah. CINTA-KASIH
mulai terinstal secara otomatik. Betul ke?

CS : Ya, anda akan menerima
mesej bahwa CINTA-KASIH akan terus diinstal kembali dalam HATI anda. Apakah anda
melihat mesej tersebut?

P : Ya. Maksudnya dh install ke?

CS :
Ya, tapi ingat bahwa anda hanya mpunyai program dasarnya saja. Anda perlu mulai
menghubungkan HATI yang lain agar dpt mengupgradenya.

P : Oops.
Saya mendapat mesej error. Apa yang harus saya buat?

CS : Apa mesejnya?

P : ERROR 412 - PROGRAM NOT RUN ON INTERNAL COMPONENT. apa mksudnya?

CS : Jangan risau, itu masalah kecik. Mksudnya, program CINTA- KASIH
diset untuk aktif di HATI eksternal tetapi belum bole aktif dalam HATI internal
anda. Ini adalah salah satu masalah pemrograman, tetapi dalam istilah
non-teknikal ini bermksud anda harus men-"CINTA-KASIH"-i mesin anda sendiri
sebelum men-"CINTA-KASIH"-i orang lain.

P : Oo..ye ke.pastu apa yang
harus saya buat?

CS : Dapatkah anda klik pulldown direktori yang disebut
"PASRAH"?

P : Ya, jap..ok dah bole..

CS : Bagus. Pilih file-file
berikut dan salin ke direktori "MYHEART" MEMAAFKAN-DIRI-SENDIRI.DOC, dan
MENYADARI-KEKURANGAN.TXT.

sistem akan mengakses file-file konflik dan
mulai memperbaiki program-program yang rosak. Anda juga perlu mengosongkan
Recycle Bin untuk memastikan program-program yang salah tidak muncul kembali.

P : Sudah. Hei! HATI saya terisi file-file baru. SENYUM.MPG aktif di
monitor saya dan menandakan bahwa DAMAI.EXE dan KEPUASAN.COM dikopi ke HATI.
Adakah ini betul?

CS : Kadang-kadang. Orang lain mungkin perlu waktu
untuk mendownloadnya. Jadi CINTA-KASIH telah terinstal dan aktif. Anda dh bole
menanganinya dari sini. Ada satu lagi hal yang penting.

P : Apa?

CS : CINTA-KASIH adalah freeware (Program Gratis). Pastikan untuk
memberikannya kepada orang lain yang anda temui. Mereka akan share ke orang lain
dan seterusnya sampai anda akan menerimanya kembali..


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in